Mendidik anak agar percaya diri sejak dini merupakan hal wajib yang dilakukan oleh orang tua. Anak yang percaya diri tentu akan lebih kuat secara mental saat tampil di depan umum atau berkumpul dengan banyak orang.
Namun untuk membuat anak lebih percaya diri bukanlah proses yang mudah. Ada serangkaian proses yang harus dijalankan secara konsisten atau dalam jangka panjang. Berikut cara mendidik anak agar tingkat kepercayaan dirinya tumbuh:
1. Dorong Anak untuk Ikut Kegiatan dengan Konsep Kerja Sama
Cara pertama yang bisa diterapkan agar anak menjadi lebih percaya diri adalah dengan mendorongnya mengikuti kegiatan berkonsep kerja sama. Kegiatan seperti ini bisa ditemukan di berbagai tempat sejak anak kecil.
Jika anak sudah sekolah, maka biasanya pihak sekolah anak mengadakan kegiatan serupa. Saat sekolah membuat kegiatan berkonsep kerja sama, maka jangan batasi anak untuk mengikutinya karena ini akan sangat membantu.
Namun jika anak belum sekolah, maka usahakan untuk berpartisipasi di berbagai kegiatan tambahan yang diadakan pihak luar. Biasanya ada beberapa tempat bermain yang mengadakan kegiatan menarik untuk kerja sama anak.
Bahkan saat di rumah, biasakan anak untuk bermain di taman yang sering dikunjungi anak-anak lain. Semakin sering anak bermain di luar bersama yang lain, maka kepercayaan dirinya akan semakin meningkat.
2. Jangan Memberi Label Pemalu Pada Anak
Saat anak menunjukkan sikap-sikap pemalu, maka orang tua juga harus mengambil sikap yang tepat. Tidak sedikit orang tua yang akhirnya melabeli anaknya sebagai pemalu bahkan saat bertemu dengan banyak orang di luar.
Meski benar anak adalah pemalu, namun memberi label ini akan membuat anak nyaman dengan kondisinya. Padahal, anak yang pemalu bisa diartikan dengan tingkat kepercayaan diri rendah dan ini harus diperbaiki.
Memberi label seperti ini akan berdampak jangka panjang pada anak bahkan sampai besar. Oleh karenanya, orang tua harus menghentikan label pemalu dan membiasakan anak untuk memberanikan diri menghadapi segala situasi.
Mungkin awalnya anak akan merasa tidak nyaman. Namun hal ini harus terus diasah oleh orang tua agar lama kelamaan anak terbiasa. Jika dijalankan secara konsisten, maka anak akan semakin percaya diri di depan umum.
3. Beri Kesempatan Pada Anak untuk Menghilangkan Rasa Malunya Sendiri
Mendidik anak agar percaya diri juga bisa dilakukan dengan memberi kesempatan pada anak untuk menghilangkan malunya sendiri. Dengan demikian, anak tidak merasa dipaksa dan prosesnya akan berjalan dengan lebih baik.
Pertama, beri pemahaman dulu kepada anak bahwa sifat malu harus dikurangi di depan umum. Menjadi pemalu bukanlah hal yang baik untuk jangka panjang. Konsep seperti ini harus dijelaskan dulu kepada anak.
Jika sudah, maka beri kesempatan pada anak untuk aktif menghilangkan sifat pemalunya. Misal dengan memesan makanan sendiri saat di tempat makan. Dengan cara ini, anak akan terbiasa berkomunikasi dengan orang lain.
4. Daftarkan Anak di Kompetisi Tertentu
Selanjutnya, orang tua bisa mendaftarkan anak pada kompetisi tertentu. Dengan membiasakan anak ikut kompetisi, maka anak akan bertemu banyak orang dan berinteraksi. Hal ini akan baik untuk jangka panjang.
Namun sebelum mendaftarkannya, sesuaikan dulu dengan potensi anak. Jangan sampai mendaftarkan anak di kompetisi yang tidak diminati. Justru jika demikian, anak akan semakin malas untuk ikut dan berpartisipasi.
Tanyakan juga pada anak tentang kompetisi yang diminati. Intinya, anak juga harus diberi kesempatan untuk memilih jenis kompetisinya. Dengan demikian, anak akan merasa bahwa menjadi percaya diri tidaklah sulit.
5. Beri Contoh Kepada Anak dan Tunjukkan Empati
Jangan lupa untuk memberi contoh kepada anak. Misal dengan bercerita bahwa dulu mama juga orang yang pemalu. Jelaskan juga cara mengatasinya dan apa dampak baiknya dengan menjadi orang yang percaya diri.
Kemudian tunjukkan juga rasa empati kepada anak. Sampaikan bahwa perasaan yang dirasakan anak sangat dipahami dan bisa diterima. Kemudian berikan semangat untuk terus belajar percaya diri sampai berhasil.
Semua cara mendidik anak agar percaya diri tersebut bisa dijadikan referensi untuk diterapkan. Meski semua proses sudah diterapkan, namun hasilnya tidak akan instan. Orang tua wajib melakukan segala proses secara konsisten dalam jangka panjang.
