Peran orang tua dalam mengasah bakat anak sangat diperlukan. Pada umumnya semua anak memiliki bakat, walaupun bakat tersebut berbeda-beda. Tidak setiap anak langsung memperlihatkan bakatnya sejak dini. Ada kalanya bakat tersebut baru terlihat setelah anak menginjak usia SD atau lebih.
Tidak mudah untuk mengenali bakat anak. Pastinya akan dibutuhkan waktu dan proses yang tidak instan untuk dapat menggali potensi anak. Berikut adalah beberapa yang dapat dilakukan untuk mengenali dan mengasah bakat anak tanpa ada unsur paksaan.
1. Tidak Terburu-Buru
Ketika orang tua terburu-buru mengeksplorasi perkembangan minat dan bakat anaknya, anak kadangkala menjadi tidak nyaman. Orang tua yang merasa anaknya berbakat melukis, langsung memasukkannya ke sanggar lukis.
Padahal, bisa jadi kesukaan anak mencampur warna adalah karena ketertarikannya pada dunia sains. Jadi, orang tua sebaiknya bersabar untuk memastikan mana bakat anak yang sebenarnya.
2. Toleransi Kesalahan yang Dilakukan
Salah satu cara mengenali bakat anak adalah dengan menoleransi kesalahannya. Misalnya, ketika anak sejak dini telah menunjukkan kemampuannya dalam hal memasak, jangan harap anak tidak akan melakukan kesalahan sama sekali.
Orang tua tetap perlu membimbingnya dalam menyempurnakan bakatnya. Ajarkan anak menggunakan alat-alat dapur dengan cara yang aman dan juga benar.
3. Perhatikan Kesenangan Anak dengan Saksama
Mengasah bakat anak dapat diawali dengan memperhatikan kesenangan atau hobi anak dengan saksama. Perhatikan ketika anak bermain. Bagaimana caranya melakukan suatu mainan, apakah tampak tertarik atau biasa saja.
Selain benda, anak juga bisa tertarik dengan suatu aktivitas. Bisa itu berupa aktivitas olahraga atau aktivitas sehari-hari seperti menanam dan membuat suatu keterampilan.
4. Terbuka Menerima Ide Anak
Seringkali anak memberitahukan kepada orang tua kegiatan apa yang disukainya. Walaupun hal tersebut barangkali baru sampai pada tahap kesenangan, tetapi tidak ada salahnya untuk ditindaklanjuti.
Ketika anak mengatakan suka membuat program di komputer, orang tua bisa mengajarkan cara membuat program tersebut. Atau, memanggil guru yang ahli di bidang tersebut.
5. Berikan Pujian
Ketika mengasah bakat anak, orang tua sangat perlu memberikannya pujian. Apalagi ketika terlihat anak sangat berusaha melakukan aktivitas yang disukainya itu.
Ketika anak sedang berusaha menyelesaikan sesuatu aktivitas yang disukainya, jangan ragu untuk memujinya. Pada dasarnya, pujian dapat meningkatkan motivasi anak untuk semakin tekun mengembangkan bakatnya. Berilah pujian sesuai porsinya.
6. Kurangi Intervensi
Bukan berarti orang tua tidak boleh mencampuri kegiatan yang disukai anak. Namun, ada kalanya biarkan anak berusaha melakukan aktivitas kesukaannya dengan kemampuannya sendiri.
Orang tua cukup mendampingi guna mengarahkan pada jalan keluar jika anak menemukan kesulitan atau jalan buntu. Hentikan kebiasan mengkritiknya dengan keras.
7. Tumbuhkan Pola Pikir yang Terbuka
Anak yang memiliki pola pikir terbuka dipercaya akan menjadi anak yang lebih berani berinovasi. Tentunya hal ini akan membuat anak lebih terbuka dalam menerima berbagai perbedaan yang muncul di masa depan.
Ketika mencoba berbagai kemungkinan tersebut, anak akan mampu menemukan hal atau aktivitas yang disukainya. Cara mengasah bakat anak seperti ini dianggap efektif untuk menemukan bakatnya.
8. Tanamkan Sikap Tekun
Mengasah bakat anak pada dasarnya adalah memberinya pengalaman pada sesuatu yang dilakukan dengan penuh ketekunan. Sikap tekun dapat diartikan tidak lekas menyerah ketika mengalami hambatan dalam mengembangkan bakatnya.
Misalnya, anak yang berbakat membuat robot, dia tidak akan menyerah hanya karena tidak ada guru yang bisa mengajarinya. Anak dapat mempelajari pembuatan robot dari buku atau sumber internet.
9. Berilah Panutan kepada Anak
Ketika anak sedang berusaha mengembangkan bakatnya, anak pasti akan memerlukan panutan atau idola. Maksud dari panutan/idola di sini adalah seseorang atau sosok yang akan disukai anak karena kesamaan hobi.
Misalnya, ajak anak yang berbakat dalam bermain bulu tangkis untuk belajar dari pengalaman pebulu tangkis nasional.
Contoh lain, anak yang berbakat memasak, dapat belajar dari ibunya yang jago masak. Dengan cara tersebut, anak semakin termotivasi dari kesuksesan sosok yang diidolakannya.
10. Berikan Anak Waktu untuk Beristirahat
Bakat perlu diasah terus-menerus agar semakin baik. Namun, jika tidak ada waktu istirahat, anak bisa merasa jenuh. Jika merasa jenuh, bisa jadi anak menjadi tidak tertarik lagi melakukannya.
Berilah anak waktu untuk istirahat dari rutinitasnya melakukan hobi. Biarkan anak bermain tanpa harus dipaksa mengembangkan bakatnya. Tentunya, waktu istirahat ini juga perlu diberi aturan yang jelas, disesuaikan dengan kondisi.
Biasanya orang tua dapat mulai mengasah bakat anak ketika bakat tersebut terlihat. Seseorang biasanya mulai terlihat bakatnya pada kisaran usia 2 hingga 4 tahun. Anak yang berbakat terhadap sesuatu biasanya punya keingintahuan besar pada berbagai hal yang disukainya.
